“Green Jobs: Peluang Kerjanya Anak Mudah untuk Indonesia Lebih Bersih”

Peluang Kerjanya Anak Muda untuk Indonesia Lebih Bersih

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.                                                  Salam sejatrah untuk kita semua.

Disini, seorang penulis ingin mengajak dan membagikan sebuah peluang usaha kerja, khususnya bagi kalian yang tidak memiliki ijasa apa pun. Karena pada tahun 2010 ada kemungkinan banyak anak mudah pada saat itu tidak memanfaatkan sekolahnya dengan serius, bisa jadi juga dari faktor perekonomian keluarganya. Sehingga mereka terpaksa berhenti sekolah dan merantau ke luar kota bahkan ada ke luar negeri untuk memilih pekerjaan yang  lebih berat. Karena pada saat itu mereka hanya berpikir bekerja dengan tenaga otot mereka saja. Memang waktu sekaolah pada saat itu, kebanyakan badan – badan mereka ada yang besar dan tenaga yang kuat, sehingga memilih pekerjaanya begitu berat. Padahal, jika mereka meneruskan pendidikan sekolahnya, ada kemungkinan mereka akan berkerja lebih ringan, nyaman dan santai. Tapi dikarenakan mereka tidak memilki ijasa untuk modal melamar pekerjaan, jadi terpaksa mereka akan bekerja sesuai dengan kemampuannya. Tapi jangan khawatir, di sini penulis akan mengajak kalian mencari peluang kerja untuk anak indonesia lebih bersi, khususnya  bagi kalian yang tidak memiliki ijasa sekolahnya.

Memang banyak sih, peluang kerja  tanpa ijasa itu, contohnya seperti kerja bangunan, borongan nebas rumput, bertani (jika memiki kebun), nebas di perusahaan sawit dan masih banyak lagi pekerjaan lainnya. Akan tetapi, disini penulis akan memberikan salah satu peluang kerja tanpa ijasa. Salah satunya yaitu seperti cerita dari seorang pemulung menjadi pengusaha penampungan sampah. Cerita ini bersifat fakta, karena penulis ingin menceritakan salah satu usaha dari saudaranya, agap saja ini sebagai motivasi.

Gudang Rongsokan Rasau Jaya (patok 50)

Barang Barang Bekas (B3)

Sumber: foto pribadi

Di Rasau Jaya, khususnya di patok 50 ada sebuah penampungan sampah atau barang barang bekas yang begitu besar. Sampah – sampah itu bukan lah sampah biasa, sampah tersebut dibeli dari sekian banyaknya para pemulung di tempat pembuangan akhir (TPA). Bermacam macam sampah yang dibelinya dari beberapa pemulung tersebut, dari barang prabutan yang pecah, plastik, botol-botol aqua dan barang barang lainnya yang sudah tidak terpakai lagi. Di TPA bagi seorang pemulung adalah surga, karena disitulah satu satunya tempat mata pencarian mereka dalam memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Ada kemungkinan kebanyakan bagi seorang pemulung  disebabkan tidaknya tamat sekolah, sehingga mereka tidak mendapatkan ijasa untuk melamar pekerjaan dan juga susahnya mendapatkan pekerjaan yang lain, sehingga mereka memilih untuk memulung saja. Salah satunya seperti saudara penulis ini.

Nama lengkapnya adalah Indrahim biasa dipangli dengan Bang Iin. Ia berasal dari kampung yang cukup jauh dari kota yaitu Desa Batu Ampar kecamatan Batu Ampar. Bang Iin ini adalah anak pertama dari delapan saudara yang keluarganya cukup sederhana, ayahnya bekerja sebagai nelayan saja, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Sejak kecil ia selalu di ajarkan dan di didik untuk hidup mandiri, supaya saat dewasanya nanti, ia bisa mengurus kehidupannya sendiri. Bang Iin sempat menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasarnya (SD Negeri 07) di Desa Batu Ampar kecamatan Batu Ampar, Kalimantan Barat. Tapi sayangnya dia tidak mengelanjutkan Sekolah Menengah Pertamanya (SMP), sehingga ijasa terakhirnya sampai di Sekolah Dasar saja dan memilih bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Dari usia 14 tahun ia mulai bekerja mengikuti ayahnya ke laut mencari ikan. Dengan tekad yang kuat, ia memberanikan diri untuk pergi melaut dengan sendiri. Awal mulanya rasa takut ada di benatnya, tapi lama kelamaan karena sudah terbiasa akhirnya ia berani dan bisa pergi melaut sendiri dalam mencari ikan di tepi sungai.

Merantau ke Kota Pontianak 

Setelah sekitaran 15 tahun keluarga Bang Iin yang  tinggal di Desa Batu Ampar akhirnya pindah, ayahnya Bang Iin mengajak keluarganya pindah rumah ke Desa Rasau Jaya kabupaten Kubu Raya, yang tidak terlalu jauhan dari kota. Kebetulan juga disana ayahnya bang Iin ada memiliki sebidang tanah, dan ingin dibangun sebuah rumah. Setelah pindah dan menetapkan rumahnya di Desa Rasau Jaya 2, ternyata ayahnya tetap bekerja sebagai nelayan di Batu Ampar, walaupun pulangnya hanya 2 bulan sekali. Sedangkan Bang Iin, berhenti dari melaut ia pergi merantau ke kota Pontianak dalam mencari peluang kerja bersama ke tiga saudaranya.

Kebetulan juga di kota Pontianak mereka memiliki kakek yang mempunyai usaha bengkel las, lalu mereka berencana untuk pergi ke rumah kakeknya. Sesampai disana, setelah mereka menjumpai kakeknya mereka pun mulai membicarakan inti – inti dari tujuan mereka ke kota Pontianak ini. Setelah mendengarkan pembicaraan mereka, akhirnya kakeknya mengajak mereka tinggal bersamanya untuk berkerjasama di perusahaan bengkel lasnya dan bersedia mengajarkan mereka tentang cara pengelasan. Merekapun merasa senang mendengarkan ajakan kakeknya. Ke esokkan hari hingga seterusnya, mereka mulai bekerja sambil belajar dalam mengelas membuat suatu barang dari besi. Pelajaran pertamanya adalah merakit dan menyatukan pintu folding gate hingga mengecatnya. Sampai lah seterusnya, lama kelamaan mereka pun mulai pandai dalam membuat barang – barang lainnya. Akhirnya mereka pun di gaji oleh kakeknya. Nah, dari gajinya itu, mereka pun mulai menabung rupiah demi rupiah.

Selain bekerja di bengkel las, mereka juga ada kerja sampingan. Karena salah satu dari mereka berencana mencari peluang kerja lainnya. Sang adik yang bernama Heruwandi, memberikan saran untuk berjualan gerobak es tebu di tepi jalanan. Mendengarkan saran adiknya, bang Iin pun tak berpikir panjang dan mensetujui saran adiknya. Hingga mereka jadi berjualan es tebu di tepi jalan dekat bengkel las kakeknya.

Singkat cerita. Setelah beberapa tahun, yaitu sekitaran 3 tahun lebih, setelah lamanya mereka bekerjasama di bengkel las kakeknya, bang Iin pun berencana ingin membuka usaha bengkel las sendiri. Uang yang ditabungan pun sudah hampir penuh, ditambah lagi uang dari jualan es tebunya. Maka, usaha yang direncanakan bang Iin akan sedikit lagi tercapai.

Pada tanggal 24 April 2010, bang Iin pun mulai merintis bengkel las nya itu. Dengan dibantu para adik – adiknya insyaallah akan berjalan dengan lancar. sedikit demi sedikit lama – lama akan menjadi bukit. Mungkin itu lah pribahasa untuk mereka, berawal dari modal kecil, lama kelamaan hasilnya akan besar. Dan akhirnya bengkel las bang Iin ini,berhasil didirikan di Jl. Tebu (Depan Gg. Padat Karya) Pontianak Barat. Tapi sayangnya, bengkel las nya tersebut tidak bertahan lama di tempat tersebut, sekitaran 10 tahun lebih bang Iin membuka bengkel las nya, akhinya pada tanggal 10 Mei 2018 ia memutuskan untuk pindah ke daerah Rasau Jaya, dengan alasan di Rasau Jaya tersebut,merupakan tempat pribadi dan tidak mengontrak lagi, selait itu peluang usaha bengkel las di rasau jaya masih sedikit, jadi ada kesempatan untuk mereka dalam membuka usaha pengelasan dan yakin akan berkembang seperyi sedia kala.

Pindahnya Provesi Bang Iin Menjadi Pengempul Barang – Barang Bakas.

Nah… setelah pindah dari Pontianak bang Iin pun mulai lagi membuka usahanya di Rasau Jaya. Tapi usaha ini, bukan lagi usaha bengkel las, melainkan menjadi usaha pengempul barang – barang bekas atau prabotan rumah tangga yang tidak terpakai lagi. Lalu kemana perginya usaha bengkel lasnya…?
Ternyata bengkel las nya itu diserahkan semua kepada adiknya yang bernama Jumadi atau lebih dikenal Madi/ Nunuk. Dan sekarang bengkel las nya tersebut berada di Jl. Rasau Jaya (Rejo Sari), yang tidak terlalu kejauhan dari tempat pembuangan sampah terbesar di Kubu Raya.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *